Ngetop Abizzz...

Rabu, 14 Maret 2012

Pengaruh Pengubahan Zona Waktu di Dunia


foto
Ket: Hijau=Waktu Indonesia Timur (WIT), Kuning=Waktu Indonesia Tengah (WITA), Merah=Waktu Indonesia Barat (WIB). wikipedia.org
Jakarta - Pengubahan zona waktu ternyata banyak dilakukan sejumlah negara. Tak terkecuali negara terpadat di dunia, Cina. Cina menggunakan satu zona waktu, yaitu GMT ditambah delapan jam. Akibatnya waktu ketika matahari berada di puncak berbeda antara kawasan barat dan timur. Di bagian barat, matahari tepat di atas kepala pada pukul 15.00. Sementara di bagian timur, posisi yang sama terjadi pada pukul 11.00.


Sebelum 1949 Cina dibagi dalam lima zona waktu. Kelimanya bervariasi dari timur ke barat dengan selisih GMT + 8.5 hingga 5,5 jam. Mereka adalah zona waktu Changpai, zona waktu Chungyuan, zona waktu Kansu-Szechuan, zona waktu Sinkiang-Tibet, dan zona waktu Kunlun.

Penyatuan waktu di Cina awalnya tidak berpengaruh terhadap kebanyakan penduduk. Sebab mayoritas penduduk masih berprofesi sebagai petani. Kini setelah Cina bergerak menjadi negara industri, waktu kemudian menjadi penting. Mengatasi dilema ini beberapa komunitas menggunakan waktu mereka sendiri yang disandingkan dengan penyatuan zona waktu utama.

Situs wisegeek menyebut Cina adalah negara terbesar dengan satu zona waktu, diikuti India. Adapun dataran Amerika memiliki empat zona waktu, yakni zona waktu kawasan timur, tengah, pegunungan, dan pasifik. Selain dataran, Amerika juga memiliki dua wilayah zona waktu tambahan untuk Alaska dan Hawai-Aleutian.

Amerika tidak berusaha menyatukan zona waktu. Mereka membagi empat zona waktu sejak 1918. Bahkan di sejumlah negara bagian, ada yang berada di dua zona waktu seperti Florida, Indiana, Kentucky, dan Tennessee. Berbeda dengan Amerika, Rusia justru berusaha mengurangi zona waktu.

Situs timeanddate menulis sejak 28 Maret 2010, Rusia mengurangi zona waktu dari 11 menjadi sembilan. Presiden Dmitry Medvedev menyatakan perbedaan zona waktu berdampak negatif terhadap efisiensi negara dan juga membutuhkan penggunaan teknologi yang mahal.

Tak hanya mengurangi, Rusia juga secara resmi menghapus masa Day Light Saving atau waktu musim panas sejak 1 September 2011. Biasanya di negara dengan empat musim, pada musim panas, waktu akan dimundurkan satu jam (day light saving) karena matahari bersinar lebih panjang ketimbang tiga musim lainnya.

Sebuah laporan dari Komisi Energi pada 2007 menyebut day light saving tidak berpengaruh pada penghematan energi. Tapi pengaturan ini ternyata mempengaruhi kinerja jantung. Mengutip situs webmd, peneliti Swedia pada 2008 menyebut gangguan sekecil apa pun dalam pola tidur akan mempengaruhi jantung. Kajian yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine menyebut terjadi peningkatan 5 persen serangan jantung ketika jam dimajukan demi day light saving time.

Kini Indonesia mengekor kebijakan Cina. Indonesia berencana menyatukan tiga zona waktu. Tapi apakah ada penyesuaian? Polemiknya terus berjalan.
Sumber : TEMPO.CO,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar