Hidayat Nur Wahid KEPULAUAN SERIBU -- Dalam kunjungan pasangan Cagub dan Cawagub DKI Jakarta Hidayat Nur Wahid dan Didik...
Sabtu, 17 Maret 2012
KARENA BUKAN KAKEK SAYA !
Oleh : Ust. Ahmad Mudzoffar Jufri (Seri Kisah Hikmah)
Alkisah, tersebutlah seorang pemuda yang dikenal dengan kepandaian,
kecerdasan, keluasan wawasan dan kestabilan pribadinya. Ia bahkan biasa
menjadi rujukan khususnya bagi teman-teman sebayanya. Sampai datang
suatu hari, dimana sang pemuda istimewa dirundung duka yang sangat
mendalam. Kakeknya yang sangat berarti dalam hidupnya, sangat dicintai
dan sangat dimuliakannya, meninggal dunia secara mendadak. Iapun
serta-merta berubah. Dan hampir total. Yakni menjadi pemurung, seakan
telah kehilangan semangat dan gairah hidup. Sehingga tentu saja tak
lagi mampu memberikan inspirasi dan motivasi kepada orang lain, seperti
yang biasa dilakukannya sebelumnya. Karena pikiran dan kecerdasannya
seolah-olah telah menjadi tumpul dan “buntu”. Bahkan dia yang kini
justru sangat membutuhkan inspirasi dan motivasi itu dari orang lain.
Disinilah dan dalam kondisi serta situasi seperti inilah, peran teman
dan sahabat begitu dibutuhkan, dan bisa jadi justru demikian vital.
Nah, diantara teman sejawat dan sahabat terdekat sang pemuda istimewa
tersebut, terdapat seorang pemuda yang dikenal sebagai pemuda
biasa-biasa saja. Karena memang bagi yang mengenalnya, tidak ada
satupun kelebihan tertentu yang menonjol darinya. Namun yang
jelas-jelas luar biasa adalah bahwa, dia mempunyai ketulusan, kesetiaan
dan kepedulian. Dia sangat peduli dan sekaligus prihatin terhadap
perubahan drastis sahabat karibnya itu. Iapun berpikir keras dalam
rangka mencari cara untuk bisa memulihkan kondisi sang sahabat
istimewa. Dimana yang sangat dibutuhkannya saat ini adalah motivasi dan
semangat hidup.
Maka iapun berusaha mengumpulkan kata-kata
bijak, kalimat-kalimat hikmah dan kutipan-kutipan motivasi, untuk
disampaikan sebagai nasehat pengingat dan penyemangat bagi sang
sahabat. Malah sebagiannya justru ia dapatkan dari hasil
mengingat-ingat wejangan-wejangan penuh inspirasi milik sahabatnya yang
tengah berduka itu sendiri. Dan hasilnya sungguh tak terduga, termasuk
oleh yang bersangkutan sendiri. Karena taushiyah pemuda “biasa-biasa
saja” tersebut ternyata bisa berdampak positif luar biasa. Si pemuda
istimewapun kembali pulih seperti sedia kala. Seperti layaknya
seseorang yang baru bangun dari tidur, atau siuman dan tersadarkan dari
kondisi pingsan. Tentu saja semua pihak sangat bergembira dengan hal
itu. Karena memang ia adalah pribadi yang sangat disukai dan
dibanggakan oleh masyarakatnya. Maka tak heran, jika semua amat peduli
terhadapnya.
Namun yang membuat mereka terheran-heran sampai
hampir tidak percaya adalah terkait dengan sosok yang berada dibalik
pulihnya kondisi pemuda kebanggaan. Bagaimana mungkin seorang yang
sebelumnya dikenal sangat biasa-biasa saja itu tiba-tiba mampu
memberikan nasehat bijak yang sangat bernas dan luar biasa dampak
positifnya. Dan didorong oleh rasa penasaran tersebut, maka sebagian
merekapun lalu menemui si pemuda penasehat “tiban”, untuk mencari tahu,
apa gerangan rahasia di balik wejangan jitunya itu. Namun ternyata
rahasianya sangat sederhana, namun jarang tersadari. Sang pemuda
“biasa-biasa saja” pun menjawab dengan berkata datar: Tentang bagaimana
kok saya bisa memberikan kalimat-kalimat nasehat itu kepada teman dan
sahabat saya, sebenarnya masalahnya sangat sederhana sekali. Yakni,
karena yang meninggal bukanlah kakek saya. Andai saja beliau adalah
kakek atau bahkan ayah saya sendiri, mungkin kondisi saya akan jauh
lebih buruk lagi dibanding yang dialami oleh sahabat istimewa saya itu!
Disinilah pelajaran penting yang sangat berharga itu harus
kita ambil. Manusia dicipta sebagai makhluk sosial. Maka ia tidak bisa
dan tidak mungkin hidup sendiri. Sehingga orang sombong yang merasa
tidak butuh kepada orang lain itu, tidak hanya berdosa besar karena
melanggar larangan utama agama, melainkan juga telah mengingkari jati
diri dan hakekat kemanusiaannya sendiri.
Dan kebutuhan akan
orang lain itu akan terasa demikian menonjol dan bahkan kadang begitu
mutlak, saat seseorang menghadapi kondisi-kondisi sulit dan
cobaan-cobaan berat dalam hidupnya. Dimana hal itu akan membuatnya
menjadi demikian terbebani, tertekan, dan merasa “buntu”, sehingga
tidak lagi mampu berpikir jernih untuk mencari dan menemukan solusi
yang tepat bagi masalahnya. Disinilah ia, siapapun dia, dan apapun
derajat serta statusnya, akan sangat membutuhkan orang lain, juga
siapapun orang lain itu, dan apapun derajat serta statusnya. Karena
orang lain tersebut, termasuk yang dinilai lebih rendah sekalipun, tak
jarang justru bisa memberikan nasehat, masukan atau solusi indah dan
tepat, yang bisa meringankan beban, dan yang mungkin tidak terlintas
sedikitpun sebelumnya di benak si empunya masalah! Disebabkan karena ia
memang benar-benar lagi “buntu”!
Selanjutnya, jangankan kita
dengan segudang kelemahan dan kekurangan, bahkan manusia paling
sempurna sekalipun, Baginda Sayyidina Rasulillah shallallahu ‘alaihi
wasallam, juga tetap butuh kepada setiap orang diantara kerabat, istri,
dan para sahabat yang ada di sekitar Beliau. Padahal mereka semua tentu
saja jauh lebih rendah dalam segala hal daripada Beliau yang maksum
(terpelihara oleh Allah Ta’ala). Dan berikut ini adalah cuplikan kisah
sirah penuh ibrah, yang semakin menguatkan makna yang telah tertuangkan
diatas.
Selepas memperoleh pengalaman luar biasa untuk pertama
kalinya di Gua Hira’, yakni kedatangan Jibril ‘alaihissalam dengan
membawa wahyu pertama, pribadi paling agung dalam sejarah umat manusia,
Baginda Rasul mulia shallallahu ‘alaihi wasallam, langsung bergesa
pulang ke rumah di Makkah, dengan penuh rasa kecemasan sampai gemetaran
dan keringatan. Beliaupun berkata kepada sang istri tercinta, Ummul
Mukminin Khadijah ra: “Selimutilah aku. Selimutilah aku. Sungguh aku
takut dan khawatir kalau-kalau telah terjadi hal buruk pada diriku”.
Namun dengan sikap yang penuh ketenangan serta kepastian, Ibunda
Khadijahpun mampu meyakinkan dan menenangkan Sang Rasul mulia.
Sekaligus memberikan solusi dan langkah tepat dengan mengajak
Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bertemu dan
mengkonsultasikan apa yang Beliau alami kepada rujukan yang tepat,
karena memang benar-benar ahlinya, yakni Waraqah bin Naufal. (Kisah
lengkapnya dalam HR. Al-Bukhari dari Ummul mukminin ‘Aisyah ra.).
Berikutnya, 19 tahun kemudian, kondisi dan situasi yang agak mirip
terjadi lagi dalam sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yakni
pada peristiwa perjanjian damai Hudaibiyah (shulhul hudaibiyah). Dimana
perjanjian genjatan senjata tersebut ditanda tangani pasca pembatalan
pelaksanaan umrah oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para
sahabat yang berjumlah + - 1.500 orang. Tentu saja mereka kecewa super
berat. Ditambah lagi andai saja boleh berpendapat, sebenarnya tak
seorangpun diantara para sahabat mulia itu yang setuju dengan penanda
tanganan perjanjian damai tersebut. Namun itu sudah menjadi keputusan
wahyu. Allah Ta’ala bahkan menyebutnya sebagai “fathan mubiinaa”
(kemenangan yang nyata) (Lihat: QS. Al-Fath: 1). Karenanya, shulhul
hudaibiyah menjadi salah satu ujian puncak terberat bagi keimanan dan
ke-tsiqah-an (kepercayaan) mereka terhadap kenabian dan kerasulan
Rasulullah shallallahu ‘alaitu hi wasallam. Makanya dalam menjawab
pertanyaan sahabat Umar ra., satu-satunya sahabat yang berani angkat
bicara saat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya berkata
singkat: “Wahai Umar, aku adalah Rasulullah”. Dan jawaban itu pulalah
yang diulang oleh sahabat Abu Bakar, yang juga didatangi oleh Umar
sesudah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. “Ya ‘Umar, Beliau adalah
Rasulullah”. Mungkin maksud dari jawaban itu, seakan beliau berdua
ingin mengatakan kepada Umar ra. begini: “Tinggal engkau percaya
ataukah tidak? Itu saja. Titik”
Intinya, karena begitu berat
dan besarnya kekecewaan ke-1.500 sahabat agung itu, saat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar mereka segera
membatalkan ihram umrah mereka (semacam ber-tahallul) dengan mencukur
atau memotong rambut masing-masing dan menyembelih hewan hadyu bagi
yang membawanya dari Madinah, merekapun seakan enggan memenuhi perintah
Baginda Nabi. Bahkan seolah-olah mereka tidak mendengarkan sama sekali
suara perintah yang mungkin saja sempat diulang-ulang lebih dari sekali
itu. Karena secara riil memang benar-benar tak seorangpun diantara
mereka yang bergerak dan beranjak untuk melaksakannya. Padahal
biasanya, mereka semuanya adalah para pengikut patuh dan penganut setia
yang senantiasa siap secepat kilat untuk menjalankan setiap sabda Sang
Rasul Junjungan shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan mendapati
serta menghadapi sikap yang sangat tidak lazim itu, tentu sangatlah
logis bila secara manusiawi Rasulullahpun sempat kecewa berat dan harus
menahan amarah. Beliau lalu masuk ke dalam tenda khusus Beliau untuk
menemui sang istri yang menyertai Beliau saat itu, Ummu Salamah ra.
Ummul mukmininpun langsung bisa menangkap dengan jelas bahwa, di balik
ekspresi raut wajah mulia itu tersimpan rasa kekecewaan dan amarah yang
tertahan. Dan setelah memperoleh kejelasan tentang sebab musababnya,
Ibunda seluruh kaum mukminin itupun kemudian menyampaikan kepada
Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasaallam sebuah pemikiran cemerlang,
usulan bijak dan masukan yang sangat tepat sekali.
Kira-kira
beliau (Ummul mukminin ra) mengatakan begini (gubahan demi
menggamblangkan): Wahai Rasulullah, maklumi dan maafkanlah para sahabat
itu. Sama sekali bukanlah maksud dan kesengajaan mereka untuk tidak
menunaikan perintah Baginda. Namun pembatalan umrah ke Baitullah yang
sudah lama sekali mereka tunggu-tunggu, dan justru menggantinya dengan
perjanjian damai yang belum mereka pahami hakekatnya, karena memang
proses dan sebagian poinnya tampak seakan merugikan Islam dan kaum
muslimin, (itu semua) sungguh telah meninggalkan sebuah kekecewaan yang
teramat dalam di hati mereka semua. Dan dengan kondisi batin seperti
itu, mereka jadi tidak siap mendengar kata-kata apapun dan dari
siapapun. Maka sekarang, sebaiknya Baginda keluar kepada mereka dengan
memberikan contoh praktik langsung saja, dan tanpa sepatah katapun.
Karena memang saat dan kondisi seperti ini bukanlah waktu yang tepat
untuk berkata-kata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun lalu
keluar dari tenda dan langsung memanggil tukang cukur agar mencukur
rambut mulia Beliau, dan juga memerintahkan agar hewan hadyu Beliau
didekatkan untuk Beliau sembelih. Dan semua itu Beliau lakukan di depan
para sahabat, dengan tanpa berucap sepatah katapun, seperti usulan dan
masukan dari Ibunda Ummu Salamah ra. Dan subhanallah, prediksi Ummul
mukminin sungguh sangat tepat. Begitu menyaksikan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam mencukur rambut dan menyembelih hadyu,
secepat kilat merekapun langsung berebut alat cukur dan pisau, karena
ingin segera dan lebih dulu meniru dan mengikuti praktik Sang Tauladan
Utama shallallahu ‘alaihi wasallam. Sampai-sampai diceritakan bahwa,
akibat sikap saling berebut itu, hampir-hampir saja mereka saling
melukai satu sama lain! (Lihat: As-Sirah An-Nabawiyah, oleh Ibnu
Katsir, atau Ibnu Hisyam, atau lainnya).
Nah, pertanyaannya
sekarang adalah, bagaimana dalam dua penggal kisah sirah diatas, kedua
Ummul mukminin tersebut mampu tampil setenang itu, bersikap sebijak
itu, dan berpemikiran secemerlang itu di hadapan manusia teragung?
Apakan itu karena beliau berdua memang lebih hebat daripada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam? Sudah pasti 100 % sama sekali tidak.
Karena memang itu mustahil! Jadi mengapa dan bagaimana itu bisa
terjadi? Ya, tiada lain karena mereka dalam kisah masing-masing, tidak
mengalami sendiri seperti yang dialami oleh Nabiyullah shallallahu
‘alaihi wasallam. Atau dengan kata lain, masalahnya adalah seperti
ungkapan polos pemuda dalam kisah di muka: “Karena yang meninggal bukan
kakek saya!”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar