Ngetop Abizzz...

Tampilkan postingan dengan label Cahyadi Takariawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cahyadi Takariawan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Juli 2012

Bersyukurlah, Perjuangan di DKI Telah Memberikan Banyak Kemenangan

Oleh : Cahyadi Takariawan

Alhamdulillah, kerja keras telah kita lakukan. Segenap kesungguhan telah kita curahkan. Segenap pengurbanan telah kita kontribusikan. Berbulan-bulan bekerja dengan luar biasa, tak terkirakan energi yang terkuras untuknya, alhamdulillah, betapa bahagia kita telah bekerja untuk Jakarta.
Adakah itu hilang dan sia-sia? Tidak akan ! Tidak ada yang hilang, tidak ada yang sia-sia, tidak ada yang sirna. Segala kebaikan pasti berbalas kebaikan. Balasan itu, tidak mesti kita terima sekarang, tidak mesti dalam bentuk kemenangan seperti yang kita inginkan. Balasan itu telah Ia siapkan sebagai surprise yang pasti diberikanNya kepada para pejuang keadilan. Kapan waktunya, Allah yang menentukan.

Kamis, 03 Mei 2012

Bagaimana Cara Memuji Isteri?


Oleh : Cahyadi Takariawan
“Wah, engkau sekarang tampak semakin subur. Ini menandakan asupan gizimu telah terpenuhi”, kata seorang suami memuji isterinya yang tampak segar.
“Gak usah mengejek lah…. Katakan saja kalau aku gendut, gak usah pakai ngomong gizi segala…” jawab isterinya.
Pada beberapa kejadian, rupa-rupanya ditemukan kesulitan membedakan mana pujian dan mana ejekan. Seorang suami yang tengah memuji isteri, mendadak mendapatkan respon negatif dari sang isteri, yang menganggap suaminya telah menghina dan mengejek dirinya. Padahal suami tersebut tidak mengejek atau menghina, namun ia menggunakan ungkapan yang kurang tepat dalam memuji.

Senin, 02 April 2012

Belajar dari Umar : Mengerti Tanpa Henti


Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah saw. Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatmah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol pada kaki dan tangannya, berjenggot lebat, berwajah tampan, dengan warna kulit yang coklat kemerah-merahan. Umar dibesarkan di lingkungan Bani Adi, salah satu kabilah Quraisy. Nasabnya adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qarth bin Razah bin Adiy bin Ka’ab binLu’ay bin Ghalib.

Hal-hal Kecil Bisa Merusak Keluarga Anda


Kemarin pagi (kamis, 29/03), Ani, siswi kelas 2 SMUN Ogan Komiring Ilir (OKI), Sumsel, bersiap utk berangkat sekolah. Seperti biasanya, setelah mandi ia segera mengenakan busana muslimah sebagai seragam sekolahnya.
Ketika tengah mengenakan kerudung, ia memasang jarum pentul di beberapa bagian, agar kerudungnya rapi dan tidak mudah lepas. Salah satu jarum pentul ia gigit, sembari mengenakan kerudung dan mematut di depan cermin.

Minggu, 25 Maret 2012

Pilkada yang Menggerakkan


hnw

Oleh : Cahyadi Takariawan

He tangi, tangi…. Iku bosmu sido ndaftar Gubernur Jakarta !” suara melalui handphone itu demikian keras di telinga Yunus, seorang kader di Palu, Sulawesi Tengah. Jam 24.00 WITA, Yunus yang sudah tidur menjadi terbangun karena telpon genggamnya berdering. Rupanya saudaranya dari Banyuwangi menelpon dengan luapan kegembiraan, karena tengah menyaksikan berita di televisi proses pendaftaran Hidayat Nurwahid ke KPUD DKI Jakarta untuk calon Gubernur, berpasangan dengan Didik J. Rachbini.
“Alhamdulillah, sampeyan ngerti seko ngendi ?” tanya Yunus.
Mulo ndang tangiyo, aku yo isih nonton tivi, lagi ono beritane bosmu iku…”, jawab saudaranya di Banyuwangi. Yang disebut dengan “bosmu” adalah Hidayat Nurwahid.

Minggu, 04 Maret 2012

Fiqih Prioritas dan Fiqih Keseimbangan

Oleh : Cahyadi Takariawan 



Seseorang sahabat bertanya melalui SMS kepada saya, bagaimanakah prinsip-prinsip menetapkan prioritas kegiatan ? Pertanyaan kecil ini mengingatkan saya kepada “kajian lama” tentang Fikih Prioritas dan Fikih Pertimbangan. Maka saya menemukan pula “buku lama” dan “catatan lama”, rasanya tetap aktual untuk dihadirkan dalam zaman kekinian.
Fiqh Aulawiyat (Fikih Prioritas), menurut Dr. Yusuf Qardhawi, adalah fikih “meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum nilai dan pelaksanaannya”. Sehingga sesuatu yang tidak penting tidak didahulukan atas sesuatu yang penting. Sesuatu yang penting tidak didahulukan atas sesuatu yang lebih penting. Sesuatu yang tidak kuat (marjuh) tidak didahulukan atas sesuatu yang kuat (rajih). Sesuatu yang biasa-biasa saja tidak didahulukan atas sesuatu yang utama atau paling utama.

Senin, 20 Februari 2012

Dua Bulan Kurang Sepuluh Hari, Pengampunan Itu Tiba - Serial Tabuk – 12

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google
Kapankah masa hukuman ini berakhir ? Hari-hari terasa semakin panjang dan semakin melelahkan. Kesunyian makin mencekam, semenjak bertambahnya hukuman untuk berpisah tempat tinggal dengan isteri. Hari-hari dijalani sendiri, sunyi, sepi, tidak ada suara yang ditujukan kepada dirinya. “Akhirnya, hari-hari selanjutnya aku hidup seorang diri di rumah. Lengkaplah bilangan malam sejak orang-orang dicegah berbicara denganku menjadi 50 hari 50 malam”, ungkap Ka’ab.
Sebuah perjuangan yang luar biasa. Kita tidak bisa membayangkan, bagaimana rasanya dikucilkan dari jama’ah selama hampir dua bulan lamanya. Kita tidak bisa mengerti, bagaimana kesunyian mencekam dan menikam jantung mujahid setiap harinya. Tanpa mengetahui sampai kapan hukuman ini akan berakhir. Tanpa bisa meminta kejelasan apakah hukuman ini berlaku untuk selamanya. Tanpa ada seorang pun yang hadir sebagai pembela dan pendamping atas masalah yang dihadapinya.

Tidak Perlu Meminta Keringanan Hukuman - Serial Tabuk – 11

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google
Kondisi semua orang berbeda-beda, tidak pernah sama. Kendati sama-sama mujahid, sama-sama aktivis, namun satu dengan lainnya selalu memiliki perbedaan. Bisa disebabkan karena perbedaan usia, atau kesehatan, atau kekuatan badan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dalam menjalani suatu hukuman, apresiasi setiap orang juga bisa berbeda, kendati hukumannya sama.
Dalam sejarah Islam dikenal ada sikap yang berbeda dalam menjalani hukuman, dan dengan kearifan Nabi saw, beliau bisa memberikan keringanan kepada orang tertentu karena adanya kondisi tertentu. Seperti hukuman yang dijalani oleh Ka’ab, Murarah dan Hilal. Ketiga orang ini melakukan kesalahan yang sama, yaitu tidak berangkat ke Tabuk. Hukuman yang diberikan juga sama, yaitu didiamkan oleh nabi dan para sahabat, hingga empatpuluh hari empatpuluh malam. Masih ditambah dengan hukuman menjauhkan diri dari isteri, setelah memasuki hari keempatpuluh.

Lengkap Sudah Kesunyian Itu - Serial Tabuk – 10

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google

Sampai kapan hukuman sunyi ini berakhir ? Tidak ada yang bisa memberikan jawaban. Hari demi hari terasa demikian panjang dan melelahkan. Hidup bersama komunitas orang-orang shalih, namun justru diasingkan. Tidak ada yang mengajaknya bicara, tidak ada yang menyapa, tidak ada yang peduli dengan keberadaannya. Semua diam membisu kepadanya. Seakan dirinya tidak ada di lingkungan mereka.
Semua hukuman sunyi itu dijalani dengan sepenuh keikhlasan dan kesadaran diri. Dalam situasi kesedihan mendalam akibat hukuman, ujian masih datang lagi dengan adanya surat dari Raja Ghassan yang mengajak Ka’ab untuk meninggalkan komunitas Nabi saw. Surat Raja Ghassan itu sungguh sebuah ujian keikhlasan, yang datang tepat pada waktunya. Ka’ab mampu melewati ujian ini dengan sempurna. Dibakarnya surat Raja Ghassan tersebut.

Jangan Ikuti Ajakan Raja Ghassan - Serial Tabuk – 9

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google

Pada saat engkau merasa terasing dari dakwah dan jama’ah, pada saat engkau merasa resah karena tengah mendapat suatu uqubah, akan banyak ajakan mendatangimu. Banyak suara-suara pembelaan, suara simpatik, suara empati, suara yang mengajakmu berpaling dari dakwah dan jama’ah. Ada banyak tawaran yang bisa membuatmu berpikir ulang atas janji setia di jalan dakwah.
“Anda itu tokoh yang luar biasa. Mengapa organisasi anda tega memperlakukan anda seburuk ini?”
“Anda tidak layak mendapat perlakuan seperti ini. Jelas ini satu kesalahan dari organisasi anda yang tidak bisa menempatkan posisi anda pada tempat yang semestinya. Kami lebih bisa menempatkan anda pada posisi yang istimewa”.

Siapa Yang Akan Menolongmu ? - Serial Tabuk – 8

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google

Ketika engkau melakukan kesalahan, maka hanya dengan bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah, engkau memiliki harapan untuk mendapat kebaikan dan pertolongan. Hukuman kesunyian itu sangat menyiksamu, sangat melelahkanmu, sangat menguras perasaan dan mendatangkan kelelahan batin yang teramat sangat. Pada konsisi seperti itu engkau ingin sedikit berbagi, ingin sedikit mendapat perhatian, ingin sedikit mendapat apresiasi.
Sempit dadamu terasa hampir meledak. Kau beranikan diri datang kepada seorang kerabat yang engkau sangat yakin ia akan bisa menolongmu. Berharap ia akan sedikit meringankan penderitaanmu. Sekedar memberi apresiasi, sekedar berbagi, yang dengan itu engkau akan meluapkan perasaan yang terpendam.

Mencari Pertolongan
Ka’ab berusaha menenangkan hati. Rasa bersalah, rasa gelisah dan resah, bercampuraduk. Diberanikan diri mendatangi rumah seorang kerabat.
“Pada suatu hari, aku mengetuk pintu pagar Abu Qatadah, saudara misanku dan ia adalah saudara yang paling aku cintai. Aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah, ia tidak menjawab salamku”.
Abu Qatadah, ia saudara yang amat dicintai Ka’ab. Berharap mau mendengarkan pembicaraannya, namun itu tidak terjadi. Menjawab salam pun tidak. Seakan sudah putus hubungan sama sekali. Seakan persaudaraan yang telah terjalin sekian lama itu tidak berarti lagi. Namun Abu Qatadah juga sedang melaksanakan perintah, sebagaimana sahabat lainnya, bahwa mereka tidak boleh berbicara kepada Ka’ab, Murarah dan Hilal.

Jangan salahkan Abu Qatadah. Ia juga hanya menjalankan perintah dari qiyadah. Semua telah menjalankan amanah, dan lihatlah betapa mulia sikap mereka. Ka’ab tetap berusaha mendapat sedikit apresiasi dari saudaranya itu.
“Aku menegurnya, ‘Abu Qatadah! Aku mohon dengan nama Allah, apakah kau tahu bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?”
Sebuah pertanyaan kecil, untuk mendapatkan pengakuan dan apresiasi. Namun Abu Qatadah tidak bergeming.
“Ia diam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulanginya sekali lagi, tapi ia hanya menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!”
Empat kali Ka’ab menyampaikan pertanyaan itu, sekedar mendengar jawaban kecil dari saudaranya itu. Mungkin jawaban “Ya, aku mengetahui itu” sudah akan sangat menyenangkan dan menenangkan hati Ka’ab. Namun Abu Qatadah tidak mau bertindak lancang. Ia hanya diam. Itu adalah sikap standar dalam situasi hukuman sunyi yang diberikan kepada Ka’ab.
“Air mataku tidak tertahankan lagi. Kemudian aku kembali dengan penuh rasa kecewa”.

gambar : Google

Allah dan Rasul Lebih Tahu Kondisimu
Lihat betapa tegar Abu Qatadah bertahan. Kita yakin ia pasti tahu betapa kecintaan Ka’ab kepada Allah dan Rasul yang sangat besar. Jika Ka’ab tidak mencintai Allah dan Rasul, sudah pasti ia akan menjadi orang munafik yang membawa alasan palsu serta membuat sumpah palsu di hadapan Nabi Saw. Namun ia tidak mau melakukan itu.
Ia hanya mengatakan, setelah empat kali pertanyaan dilontarkan Ka’ab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!”
Kira-kira ingin berpesan kepada Ka’ab, kembalilah kepada Allah dan Rasul. Sungguh Allah dan Rasul lebih tahu kondisimu, dibandingkan dengan aku atau manusia lainnya.
Maka berharaplah hanya kepada Allah atas segala yang kau inginkan. Jika engkau berharap pengampunan, sesungguhnya Allah Maha Pengampun. Jika engkau berharap pertolongan, sesungguhnya Allah Maha Penolong. Jika engkau berharap pengertian, maka sungguh Allah Maha Mengetahui segala yang tampak dan yang tersembunyi.
Engkau tidak bisa berharap dari manusia, karena semua manusia lemah dan penuh keterbatasan. Jika engkau telah menempuh jalan kebenaran, hadapi semua resiko yang ada di dalamnya dan jangan menjadi cengeng oleh karena perlakuan yang engkau terima di jalan ini.
Mungkin engkau merasa, betapa kejamnya qiyadah kepadaku. Mungkin engkau merasa, beta teganya jama’ah kepada diriku. Bukankah aku telah berkontribusi, aku telah berbakti, aku telah terlibat di jalan ini dengan sepenuh hati, mengapa aku harus diperlakukan seperti ini ? Mengapa orang-orang yang belum jelas kontribusinya justru diberi kebebasan, sementara aku yang telah mengukir jasa justru diperlakukan dengan pemberian hukuman ?

Mungkin engkau menjadi melankolis dan merasa dizalimi, lalu engkau merasakan aroma ketidakadilan atas keputusan yang diberikan kepadamu. Namun itu tidak boleh engkau jadikan alasan untuk disersi, karena itu keputusan musyawarah. Itu keputusan jama’ah. Di antara kita memang tidak ada Nabi, dan kita semua sama sekali tidak sekualitas para sahabat Nabi. Sangat jauh dari itu. Namun kita memiliki sistem, kita memiliki mekanisme, kita memiliki konstitusi, kita juga memiliki pimpinan. Itu yang harus kita ikuti.
Saat hatimu merasakan kesempitan karena “perlakuan” jama’ah kepada dirimu, ingatlah engkau memiliki Allah yang bisa menolongmu. Saat perasaanmu merasa disakiti karena hukuman yang diberikan kepada dirimu, ingatlah engkau memiliki Allah untuk tempat berlindung, tempat mengadu, dan tempat mencurahkan segala isi hati. Jangan ikuti perasaan itu, jangan disikapi dengan berlebihan kata hati itu, kembalilah kepada ketegaran jiwamu sebagai mujahid, sebagai kader dakwah yang gagah.
“Memang aku bersalah, maka aku menerima keputusan jama’ah kepada diriku”. Katakan itu dengan yakin dan mantap dalam jiwamu, sembari berharap Allah akan mengampuni dan memberikan kebaikan kepadamu.
Benar kata Abu Qatadah, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!” Ya, Allah lebih tahu kondisimu, maka mendekatlah kepadaNya. Jangan menjauh dariNya.
(Bersambung)

Hukuman Itupun Dilaksanakan - Serial Tabuk – 7

Oleh : Cahyadi Takariawan
gambar : Google
Jika memang engkau melakukan kesalahan, bersiaplah untuk menerima hukuman. Dengan cara itu, engkau memiliki harapan untuk mendapatkan rehabilitasi, lebih dari itu, ampunan Allah tentu jauh lebih utama. Sikap kerelaan mendapatkan hukuman adalah bagian dari karakter kader dakwah; yang selalu bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Tidak melarikan diri dari tanggung jawab, tidak menjauhkan diri dari persoalan, namun menghadapinya dengan sikap positif.

Katakan Saja Yang Sebenarnya - Serial Tabuk – 5

Oleh : Cahyadi Takariawan


gambar : Google
Bagaimana kalau kita melakukan kesalahan, apa sikap yang harus kita munculkan? Jelas-jelas kita melakukan suatu perbuatan yang tidak benar, karena melanggar syariat Allah. Atau jelas-jelas melanggar konstitusi organisasi, atau melanggar keputusan syura, atau melanggar perintah qiyadah. Tidak bisa dicari makna lain, yang kita lakukan memang benar-benar pelanggaran.
Pertama kali yang muncul adalah perasaan bersalah dan gelisah, ini menandakan kalau hati kita masih sehat dan bersih. Kedua, segera “bersihkan diri” dengan mengakui keasalahan yang telah kita lakukan. Katakan saja yang sebenarnya, jangan memperbanyak dan menumpuk kesalahan baru dengan berbohong dan mengajukan alasan palsu. Ketiga, segera menghadap qiyadah untuk mencari solusi atas kesalahan yang telah kita lakukan. Jangan menjauh dan jangan takut kemarahan qiyadah, tapi hadapi saja sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kesalahan yang telah kita lakukan.
Adalah Ka’ab, ia sudah bertekat untuk menghadap Nabi dan mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak mau melakukan kebohongan sebagaimana dilakukan delapan puluh orang lainnya yang telah menghadap Nabi dengan alasan serta sumpah palsu. Tidak, Ka’ab bukan seperti mereka. Ka’ab adalah mujahid yang tangguh.


Tibalah Saat Yang Menegangkan Itu…
Saat itu benar-benar menegangkan. Perasaan bersalah, gelisah dan malu bercampur aduk menjadi satu pada diri Ka’ab. Semenjak ia tertinggal, tidak berangkat ke Tabuk, hatinya telah diliputi perasaan bersalah yang kompleks. Membayangkan nanti ketemu Nabi dan para sahabat sepulang mereka dari Tabuk, adalah peristiwa yang sangat menegangkan. Namun harus dihadapi, apapun resikonya.
“Tibalah giliranku, aku datang mengucapkan salam kepada beliau. Beliau membalas dengan senyuman pula, namun jelas terlihat bahwa senyuman beliau adalah senyuman yang memendam rasa marah. Beliau kemudian berkata, “Kemarilah!”
Subhanallah, Nabi Saw tidak langsung menegur dan memarahi Ka’ab. Bahkan Nabi saw tersenyum kepadanya. Dengan kelembutan perasaannya, Ka’ab merasakan bahwa senyum Nabi saw “memendam rasa marah”.

“Aku pun menghampirinya, lalu duduk di hadapannya. Beliau tiba-tiba bertanya, “Wahai Ka’ab, mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?”
Inilah pertanyaan yang sudah terbayangkan pasti akan disampaikan oleh Nabi saw kepadanya. Saat yang sangat menggelisahkannya, dan membuatnya tidak bisa tenang selama ini. Akhirnya tiba juga waktu yang “menakutkan” itu. Kini ia telah di hadapan Nabi saw. Ia telah melihat delapan puluh orang sebelumnya yang mengada-adakan alasan dan sumpah palsu untuk menutupi kesalahan dan kelemahan mereka.
Nabi mengkaitkan antara ketidakberangkatan Ka’ab dengan bai’at yang telah dilakukan Ka’ab kepada Nabi saw. “Mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?” Ini adalah salah satu penjelasan mengenai urgensi bai’at atau janji setia dalam dakwah. Bahwa dengan bai’at akan bisa digunakan untuk mengingatkan dan memotivasi pelakunya. Ka’ab sudah berjanji setia kepada Nabi, tapi mengapa tidak berangkat ke Tabuk ?

gambar : Google

Katakan Yang Sebenarnya
Tidak perlu berbohong. Katakan saja yang sebenarnya. Ini justru akan cepat menyelesaikan masalah dan menenangkan hati. Selamanya, kebohongan tidak akan bisa membuat hati tenang dan tenteram. Kebohongan akan selalu menggelisahkan.
“Aku menjawab : Ya Rasulullah! Demi Allah. Kalau duduk di hadapan penduduk bumi yang lain, tentulah aku akan berhasil keluar dari amarah mereka dengan berbagai alasan dan dalil lainnya. Namun, demi Allah. Aku sadar kalau aku berbicara bohong kepadamu dan engkau pun menerima alasan kebohonganku, aku khawatir Allah akan membenciku. Kalau kini aku bicara jujur, kemudian karena itu engkau marah kepadaku, sesungguhnya aku berharap Allah akan mengampuni kealpaanku. Ya Rasululah saw, demi Allah, aku tidak punya udzur. Demi Allah, keadaan ekonomiku tidak pernah stabil dibanding tatkala aku tidak mengikutimu itu!”

Ketika berada di hadapan Nabi saw, ia telah bertekat untuk menyampaikan kondisi yang sesungguhnya. Ia ingin melakukan pengakuan dosa dengan tulus, yang dengan itu akan cepat menyelesaikan semua persoalan yang dihadapinya, dan akan mendapatkan solusi dari kesalahan yang telah dilakukan. Ia tidak mau menjadi munafik, ia tidak mau menjauh dari Nabi saw. Ka’ab telah memberikan contoh yang luar biasa bagi kita, jadilah kader yang bertanggung jawab. Hadapi semua masalah dengan kejujuran.
Perhatikan apa yang disampaikan, jawaban atas pertanyaan Nabi Saw. Pertanyaan Nabi adalah, “Mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?” Apakah jawaban Ka’ab ? Inilah jawaban seorang mujahid.

“Ya Rasululah saw, demi Allah, aku tidak punya udzur. Demi Allah, keadaan ekonomiku tidak pernah stabil dibanding tatkala aku tidak mengikutimu itu!”
Ya, Ka’ab telah menunjukkan kualitas dirinya benar-benar mujahid. Benar-benar kader yang militan dan tangguh. Sebagai manusia, ia berhak melakukan kesalahan, karena tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan. Namun sebagai mujahid, ia berani mempertanggungjawabkan kesalahan yang telah dilakukan. Ia menjawab lugas, apa adanya. “Ya Rasululah saw, demi Allah, aku tidak punya udzur”.
Lega, Ka’ab telah menyampaikan yang sebenarnya. Kini ia tinggal menunggu keputusan qiyadah atas kesalahan yang dilakukannya. Dan inilah keputusan itu….
Rasulullah berkata, “Kalau begitu, tidak salah lagi. Kini, pergilah kau sehingga Allah menurunkan keputusan-Nya kepadamu!”
“Tidak salah lagi”, kata Nabi saw. Tidak salah lagi, Ka’ab memang mujahid. Tidak salah lagi Ka’ab memang bukan munafik. Tidak salah lagi Ka’ab memang mukmin sejati. Tidak salah lagi, Ka’ab memang kader dakwah yang setia. Tidak salah lagi, karena terbaca dari kejujuran Ka’ab.
(Bersambung)

Senior Bersalah Juga Dihukum - Serial Tabuk – 6

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google
Keputusan itu “sederhana” saja, bukan ungkapan yang berbelit-belit serta bertele-tele. Tidak rumit dan sulit dipahami. Nabi Saw telah memutuskan untuk Ka’ab, “Kalau begitu, tidak salah lagi. Kini, pergilah kau sehingga Allah menurunkan keputusan-Nya kepadamu!” Itulah keputusan qiyadah.
Cukup jelas bagi Ka’ab, maka ia tidak perlu bertanya lagi apa maksud kalimat Nabi tersebut. Sebagai mujahid, sebagai kader, ia sangat memahami keputusan itu. Pergi dari hadapan Nabi Saw, dan menunggu wahyu Allah untuk memberikan keputusan atas kesalahan Ka’ab. Itu saja. Tapi, apakah itu sederhana untuk dilakukan ? Tidak. Ternyata pelaksanaannya sangat menyakitkan.

Perlukah Alasan Palsu ? - Serial Tabuk – 4


Oleh : Cahyadi Takariawan
gambar : Google
Ini bukan judul lagu “Alamat Palsu”, tetapi sedang berhitung tentang alasan palsu. Banyak orang mengatakan kebohongan itu akan melahirkan kebohongan berikutnya. Untuk menutupi kesalahan, banyak orang melakukan kebohongan. Namun kebohongan akan diikuti oleh kebohongan lainnya, untuk menguatkan dan menutupi kebohongan sebelumnya. Jadilah rangkaian kebohongan yang tak ada putusnya.
Ka’ab bin Malik tergoda untuk membawa alasan palsu ke hadapan Nabi, sekembali beliau dari Tabuk. Sangat sulit posisinya, apa yang akan dikatakan kepada Nabi saw jika beliau bertanya alasan ketidakberangkatan ke Tabuk ? Betapa malu dirinya di hadapan Nabi dan para sahabat, jika ketidakberangkatannya tanpa alasan yang berarti. Tapi, apakah layak berbohong hanya untuk menyenangkan hati Nabi Saw, padahal Allah Maha Mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi ?

Menghindari Kemarahan Qiyadah

Dalam dakwah tidak dikenal AQS, atau “asal qiyadah senang”. Persoalan dakwah bukanlah milik para qiyadah, sehingga para qiyadah harus dibuat senang. Dakwah itu milik bersama, yang harus dikelola dan dipertanggungjawabkan secara kolektif antara qiyadah dengan seluruh aktivisnya. Untuk itu, sangat wajar terjadi dinamika dalam gerakan dakwah, ada aktivis yang ditegur atas kelalaiannya, ada pula qiyadah yang dinasehati atas perbuatannya.


Ka’ab sempat terpikir untuk menghindari kemarahan Nabi Saw, dengan membawa sejumlah alasan palsu agar ketidakberangkatannya ke Tabuk bisa dimaklumi. Tapi, apakah yang dicari semata-mata selamat dari teguran Nabi di dunia ini, sementara kelak tidak selamat di sisi Allah ?
“Beberapa waktu setelah berlalu, aku mendengar Rasulllah saw kembali dari kancah jihad Tabuk. Ada dalam pikiranku berbagai desakan dan dorongan untuk membawa alasan palsu ke hadapan Rasulullah saw, bagaimana caranya supaya tidak terkena marahnya? Aku minta pandapat dari beberapa orang keluargaku yang terkenal berpikiran baik”.

Gelisah, itulah ciri orang yang salah. Sulit sekali menutupi rasa gelisah hati, karena tabiat dosa dan kesalahan adalah menggelisahkan. Hati orang beriman sangat sensitif dengan kebaikan dan keburukan, respon hati bercorak spontan dan tidak bisa direkayasa. Misalnya memaksa hati untuk tenang dan gembira, padahal ia melakukan kesalahan dan dosa; hal ini tidak bisa dilakukan oleh orang beriman. Ka’ab menampakkan kegelisahan hati yang tidak bisa ditutupi. Semakin dekat dengan waktu kepulangan Nabi Saw ke Madinah, perasaan gelisahnya semakin menjadi-jadi.

Ka’ab sampai menyempatkan diri untuk meminta pendapat beberapa orang keluarga yang dikenal memiliki keluasan pandangan. Semua perbuatan ini menunjukkan kegelisahan hati yang tidak bisa ditutupi. Persoalannya, apakah kegelisahan ini akan ditutupi dengan kebohongan dan alasan palsu di hadapan Nabi ? Apakah persoalan selesai, hanya  dengan usaha menghindari kemarahan beliau ?
gambar : Google

Tetapkan Jati Diri Aktivis Dakwah
Bukan kader dakwah jika membawa alasan palsu. Ketidakberangkatan ke Tabuk tidak akan selesai hanya dengan kebohongan dan alasan palsu. Maka Ka’ab segera memantapkan hati, membuang semua ketakutan dan kekhawatiran. Ia ingin tampil di hadapan Nabi apa adanya, tanpa perlu rekayasa, dan tanpa polesan citra.

“Akan tetapi, ketika aku mendengar Nabi saw segera tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran jahat itu. Aku merasa yakin bahwa aku tidak akan pernah menyelamatkan diri dengan kebatilan itu sama sekali. Maka, aku bertekad bulat akan menemui Rasulullah saw dan mengatakan dengan sebenarnya”.

Inilah jati diri mujahid, berani menanggung resiko, berani bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Tidak perlu berpura-pura, tidak perlu mencari-cari dalil dan dalih pembenaran atas kesalahan yang dilakukannya. Tidak perlu alasan palsu, karena justru akan semakin menjauhkan dari karakter aktivis dakwah yang sesungguhnya. Tetapkan jati diri aktivis dakwah yang istiqamah, yang memancarkan kemuliaan kendati dalam kondisi bersalah. Aktivis dakwah akan melakukan tazkiyah, pembersihan jiwa agar terbersihkan dari dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.

“Pagi-pagi, Rasulullah saw memasuki kota Madinah. Sudah menjadi kebiasaan, kalau beliau kembali dari suatu perjalanan, pertama masuk ke masjid dan shalat dua rakaat. Demikian pula usai dari Tabuk, selesai shalat beliau kemudian duduk melayani tamu-tamunya. Lantas, berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut perang Tabuk dengan membawa alasan masing-masing diselingi sumpah palsu untuk menguatkan alasan mereka. Jumlah mereka kira-kira delapan puluhan orang. Rasulullah saw menerima alasan lahir mereka; dan mereka pun memperbaharui baiat setia mereka. Beliau memohonkan ampunan bagi mereka dan menyerahkan soal batinnya kepada Allah”.

Ada delapan puluh orang yang membawa alasan palsu, dan melakukan sumpah palsu, agar ketidakberangkatan mereka ke Tabuk dimaklumi oleh Nabi. Sebagaimana keinginan mereka, maka Nabi pun menerima alasan yang mereka sampaikan, dan tidak mempersoalkan. Bahkan Nabi memohonkan ampunan bagi mereka, sedangkan kondisi hati mereka yang sesungguhnya diserahkan kepada Allah Yang Maha Mengetahui.

Mengapa Nabi menerima alasan dan sumpah palsu mereka ? Karena Nabi telah mengetahui, mereka tergolong munafik. Mereka bukanlah mujahid, maka sesungguhnya mereka hanyalah orang-orang yang lemah jiwa.  Mereka bukan kader, mereka bukan aktivis, maka sampaikanlah apapun yang ingin engkau sampaikan. Buatlah alasan sebanyak-banyaknya, toh Allah Maha Mengetahui apa yang engkau sembunyikan. Berbohonglah semaumu, dan engkau akan menanggung sendiri akibatnya kelak di akhirat.
Para aktivis bukanlah orang yang lemah jiwa. Maka mereka tidak layak mencari-cari alasan palsu dan mengadakan sumpah palsu. Mereka memiliki jati diri yang membuatnya selalu memilih jalan kemuliaan, sebagaimana yang ditempuh Ka’ab.
(Bersambung)

Minggu, 19 Februari 2012

Apa Makna Jama'ah (2)


Oleh Cahyadi Takariawan

Aku ingin meneruskan berbincang tentang makna jama’ah, dalam sudut pandang yang praktis. Sebelumnya telah aku ungkapkan tentang makna jama’ah dalam skala personal dan dalam skala struktur oganisasi. Kali ini, ada satu hal kecil yang ingin aku tambahkan.

Tetaplah Husnuzhan atas Ketidakberangkatan Saudaramu - Serial Tabuk - 3

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google
Dalam dakwah, ada banyak kondisi yang tidak selalu sama dengan harapan. Oleh karena itu selalu ada ruang permakluman yang kita sediakan, bukan untuk diri sendiri, namun untuk tetap berpikir, berprasangka dan memandang positif saudara kita. Sudah direncanakan mengadakan kegiatan, semua sudah sepakat hadir pada waktu dan tempat yang telah ditentukan. Namun ada satu atau dua orang terlambat. Ada yang tidak hadir dengan mengirim kabar berita, bahkan ada pula yang tidak hadir tanpa mengirim berita sama sekali.
Kita tidak memaklumi atas kemalasan, keterlambatan, ketidakhadiran kita sendiri pada kegiatan yang sudah ditetapkan dan disepakati. Kita mendisiplinkan diri untuk hadir tepat waktu, mendisiplinkan diri untuk tetap berangkat walau sangat banyak kendala kita temukan. Kita paksakan diri untuk tetap hadir walau sangat banyak alasan untuk mengelak dan menghindari kegiatan.

Semua Bisa Menjadi Alasan Ketidakberangkatan
Apa alasan kita untuk tidak datang atau tidak menghadiri kegiatan dakwah yang sudah ditetapkan dan disepakati ?
“Anak saya sakit panas, perlu obat”, itu suatu alasan, bukan ?
“Isteri saya minta diantar ke dokter”, itu alasan yang kuat.
“Suami saya baru datang dari bepergian jauh, saya harus menyambutnya”, jelas itu alasan yang masuk akal.
“Ibu saya tengah di Rumah Sakit”, inipun alasan kuat.
“Saya sudah janjian dengan klien untuk bertemu hari ini. Agendanya sangat penting, menyangkut status dirinya”, ini juga alasan.
“Bapak saya sedang berada di Kantor Polisi, ada urusan penting”, apakah ini alasan ? Tanyakan dulu, “Apa pekerjaan bapak kamu”. Dengarkan jawabannya, “Bapak saya adalah seorang Polisi……” Lah ya wajar kalau setiap hari di Kantor Polisi.
Mungkin kita sudah merasa mampu mengalahkan semua alasan, dengan harapan semua orang akan melakukan hal yang sama. Sudah menjadi pengetahuan seluruh aktivis bahwa agenda dakwah ini sangat penting dan mendesak untuk dilakukan, sehingga seharusnya semua mengalahkan kesibukan diri agar bisa hadir dalam agenda tersebut. Dengan penuh semangat kita datang tepat waktu, setelah mampu mengatasi seluruh persoalan yang bisa menjadi alasan logis untuk tidak datang.
Alkisah, sepuluh orang aktivis dakwah bersepakat untuk bertemu dalam rangka melaksanakan sebuah agenda dakwah. Waktu dan tempat telah disepakati. Anda bersusah payah agar bisa hadir tepat waktu. Namun ternyata, hanya ada tiga orang saja yang hadir tepat waktu. Mana tujuh orang lainnya ? Satu per satu datang kemudian, dengan tingkat keterlambatan yang beragam. Masih ada tiga orang lagi yang belum hadir, padahal sudah terlambat lebih dari satu jam.
Seseorang mengirim kabar melalui sms, bahwa dirinya tidak bisa hadir karena alasan keluarga. Masih ada dua orang lainnya. Kemana mereka berdua ? Apakah lupa ? Apakah ada kendala ? Mari kita sediakan seribu alasan untuk memaklumi ketidakhadirannya.
gambar : Google

Kemana Ka’ab bin Malik ?
Ketika Ka’ab tidak berangkat ke Tabuk, tentu menjadi sebuah pertanyaan tersendiri bagi Nabi Saw dan para sahabat. Ka’ab bukan pemalas, Ka’ab bukan pecundang. Ka’ab adalah mujahid yang tangguh, tidak pernah absen dalam seluruh peperangan, kecuali dalam peristiwa Perang Tabuk. Wajar jika ditanyakan keberadaannya.
“Konon Rasulullah saw tidak menyebut-nyebut namaku sampai ke Tabuk. Setibanya di sana, ketika beliau sedang duduk-duduk bersama sahabatnya, beliau bertanya : Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”
“Seorang dari Bani Salamah menjawab : Ya Rasulullah, ia ujub pada keadaan dan dirinya!”
“Mu’adz bin Jabal menyangkal : Buruk benar ucapanmu itu! Demi Allah, ya Rasulullah, aku tidak pernah mengerti melainkan kebaikannya saja! Rasulullah saw hanya terdiam saja”.
Luar biasa Mu’adz. Ia telah menyediakan ruangan permakluman yang sangat luas dalam dirinya. Ia tidak berburuk sangka atas ketidakhadiran Ka’ab. Baginya, Ka’ab adalah seorang mujahid yang hebat, maka ia tidak mau berpikir negatif atas ketidakberangkatan Ka’ab di Tabuk.
Nabi saw tidak melalaikan seorangpun kadernya. Maka tatkala beliau mengetahui tidak ada Ka’ab di Tabuk, segera beliau bertanya : “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?” Subhanallah, betapa jeli dan teliti beliau. Ada seorang sahabat tidak hadir di Tabuk, dan beliau merespon.
Seorang sahabat mencoba menjelaskan kondisi Ka’ab, yang tengah memiliki kecukupan ekonomi saat menjelang berangkat ke Tabuk. “Ya Rasulullah, ia ujub pada keadaan dan dirinya!” Namun ungkapan ini cenderung berpikir negatif dan menuduh. Maka segera disangkal oleh Mu’adz, dengan persangkaan dan jawaban yang positif.

Jangan Manfaatkan Permakluman
Kita harus mencoba memaklumi kondisi saudara kita, atas keterlambatan atau bahkan ketidakhadirannya. Namun jangan manfaatkan permakluman itu untuk mengulang hal yang sama, dan memaafkan diri sendiri, untuk tidak datang tepat waktu, atau bahkan tidak datang sama sekali. “Toh sudah dimaklumi”, bukan begitu cara menggunakan permakluman.
“Kalau orang lain dimaklumi, mengapa saya tidak ?” bukan begitu pula cara menggunakan permakluman.
Jangan gunakan untuk diri sendiri, tapi gunakan untuk memahami kondisi orang lain. Gunakan untuk memaklumi saudara kita. Karena, nanti kita akan mengetahui, bahwa Ka’ab pun tidak dimaklumi; dan dia harus menanggung sendiri resikonya !
(Bersambung)

Ketidakberangkatan Menimbulkan Penderitaan - Serial Tabuk - 2

Oleh : Cahyadi Takariawan
gambar ; Google
Ketidakberangkatan dalam kegiatan dakwah, selalu menimbulkan penderitaan bagi para aktivis. Seakan-akan memilih sikap yang enak, dengan tidak berangkat dan tidak mengikuti kegiatan dakwah. Namun yang didapatkan adalah perasaan menyesal dan menimbulkan penderitaan. Seperti yang dialami oleh Ka’ab bin Malik.
“Tampaknya aku ditakdirkan untuk tidak ikut ke Tabuk. Namun sungguh aku merasakan penderitaan batin sejak Rasulullah saw meninggalkan Madinah”.

Sabtu, 18 Februari 2012

Seberapa Jauh Tabukmu ? Serial Tabuk - 1

Oleh : Cahyadi Takariawan
gambar : Google
Apakah yang terjadi pada seorang Ka’ab bin Malik ? Ya, ia tidak berangkat ke Tabuk. Masyaallah, harusnya ia berangkat. Sebagaimana perang-perang sebelumnya, bukankah ia tidak pernah absen ? Mengapa ia tidak berangkat menuju Tabuk, padahal Nabi dan para sahabat telah berangkat ?
Pasti ia punya kondisi dan situasi yang membuatnya tidak berangkat. Ada sesuatu di balik ketidakberangkatannya.

Senin, 13 Februari 2012

Nikmati Jalan Dakwah, Sebagai Apapun atau Tidak Sebagai Apapun Kita


Oleh : Cahyadi Takariawan*

Terlalu sering saya sampaikan, agar kita tidak gagal dalam menikmati jalan dakwah. Dalam berbagai forum dan tulisan, saya selalu mengajak dan mengingatkan, agar kita selalu menjadikan jalan dakwah ini sebagai sesuatu yang kita nikmati. Segala renik yang ada di sepanjang jalannya: suka dan duka, tawa ria dan air mata, kemenangan dan kepedihan, tantangan dan kekuatan, sudahlah, semua itu adalah bagian yang harus bisa kita reguk kenikmatannya.

Di antara doa yang sering saya munajatkan adalah, “Ya Allah, wafatkan aku dalam kondisi mencintai jalan dakwah, dan jangan wafatkan aku dalam kondisi membenci jalan ini.” Tentu saja bersama doa-doa permohonan lainnya. Saya tidak ingin menjadi seseorang yang mengurai kembali ikatan yang telah direkatkan, mengungkit segala yang telah diberikan, dengan perasaan menyesal dan meratapi segala yang pernah terjadi di jalan ini.

Saya merasa bukan siapa-siapa, dan hanya seseorang yang mendapatkan banyak kemuliaan di jalan ini. Mendapatkan banyak saudara, mendapatkan banyak ilmu, memiliki banyak pengalaman, mengkristalkan banyak hikmah, menguatkan berbagai potensi diri, menajamkan mata hati dan mata jiwa. Luar biasa, sebuah jalan yang membawa berkah melimpah. Maka, merugilah mereka yang telah berada di jalan ini tetapi tidak mampu menikmati.

Maka mari kita nikmati jalan dakwah ini, “sebagai apapun” atau “tidak sebagai apapun” kita. Posisi-posisi dalam dakwah ini datang dan pergi. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, bisa pula tidak pernah kembali. Bisa “iya” bisa “tidak”. Iya menjadi pengurus, pejabat, pemimpin dan semacam itu; atau tidak menjadi pengurus, tidak menjadi pejabat, tidak menjadi pemimpin, tidak menjadi apapun yang bisa disebut.

Kamu siapa ?

“Saya pengurus partai dakwah”. Ini bisa disebut.

“Saya pejabat publik yang diusung oleh partai dakwah”. Ini juga bisa disebut.

“Saya pemimpin organisasi dakwah”. Ini sangat mudah disebut.

“Saya kepala daerah yang dicalonkan dari partai dakwah”. Ini cepat disebut.

Tapi, kamu siapa ?

“Saya orang yang selalu berdakwah. Pagi, siang, sore dan malam. Kelelahan adalah kenikmatan. Perjuangan adalah kemuliaan. Saya bahkan tidak tahu, apa nama diri saya. Karena saya lebih suka memberikan hal terbaik bagi dakwah, daripada mencari definisi saya sebagai apa di jalan ini”.


Ya. Nikmati saja jalan ini. Sebagai apapun, atau tidak sebagai apapun diri kita di jalan dakwah. Jangan gagal menikmati.


12 Oktober 2011

Selesai Rapat di Markaz Dakwah, Simatupang.