Ket: Hijau=Waktu Indonesia Timur (WIT), Kuning=Waktu Indonesia Tengah (WITA), Merah=Waktu Indonesia Barat (WIB). wikipedia.org ...
Selasa, 14 Februari 2012
SIAPA SAJA YANG DOANYA MUSTAJAB?
1. Setiap muslim yang berdoa bagi saudaranya sesama muslim dari
kejauhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang
artinya): “Tidak seorang muslimpun berdoa dari kejauhan untuk
saudaranya muslim lainnya, melainkan malaikat “petugas/penjaga” akan
berucap: Aamiin, dan engkaupun akan mendapatkan yang seperti (isi
doamu) itu pula” (HR. Muslim dari sahabat Abud-Darda’ ra.). 2.
Doa orang yang terdzalimi/teraniaya. Salah satu pesan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat Mu’adz bin Jabal ra. saat
diutus untuk berdakwah ke Yaman ialah sabda beliau (yang artinya): “Dan
waspadalah terhadap doa orang yang terdzalimi. Karena tidak ada hijab
penghalang antara doanya itu dan Allah” (HR. Al-Bukhari). 3. Doa seorang musafir.
4. Doa orang tua untuk anaknya, berupa doa baik atau doa buruk.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Ada
tiga doa yang mustajab, tanpa keraguan didalamnya: Doa orang yang
terdzalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua untuk anaknya” (HR.
At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani). 5. Doa anak yang saleh
untuk kedua orang tuanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda (yang artinya): “Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah
(pahala) amalnya, kecuali dari tiga jalur amal: amal sedekah jariyah,
ilmu yang tetap dimanfaatkan, dan anak saleh yang mendoakannya” (HR.
Muslim). Dan di dalam hadits lain: “Sesungguhnya Allah akan meninggikan
derajat seorang hamba yang saleh di Surga, sampai sang hamba itu
berkata: Ya Rabbi, bagaimana aku bisa mendapatkan derajat setinggi ini?
Maka Allah menjawab: Itu berkat doa istighfar putramu untukmu!” (HR.
Ahmad, dan sanadnya dishahihkan oleh Ibnu Katsir). 6. Doa orang yang sedang berpuasa sampai berbuka.
7. Doa pemimpin yang adil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda (yang artinya): “Tiga orang yang doanya tidak tertolak adalah:
orang yang sedang berpuasa sampai berbuka, pemimpin yang adil, dan doa
orang yang terdzalimi/teraniaya. Allah mengangkatnya ke atas awan,
dibukakan baginya pintu-pintu langit, dan Allah berfirman (yang
artinya): “Demi keagungan-Ku, pasti Aku akan menolongmu meski setelah
beberapa waktu” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya, dan dishahihkan oleh
Al-Albani). 8. Doa orang mudhtharr (yang sedang dalam kesulitan,
terhimpit, terdesak atau kepepet). Allah Ta’ala berfirman (yang
artinya): “Atau siapakah (selain Allah) yang mengabulkan (doa) orang
yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang
menghilangkan kesusahan…?” (QS. An-Naml: 62). 9. Orang yang tidur
dalam kedaan suci (berwudhu, insya-allah termasuk yang dalam keadaan
junub dan berhalangan sekalipun) dan berdzikir kepada Allah. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Tidak seorang
muslimpun tidur malam dengan berdzikir kepada Allah dan dalam keadaan
suci (berwudhu dan berdzikir sebelum tidur), lalu terbangun pada malam
hari dan berdoa kepada Allah memohon kebaikan dunia dan akherat,
melainkan Allah akan memberikan kepadanya apa yang dipintanya itu” (HR.
Abu Dawud dan Ahmad, serta dishahihkan oleh Al-Albani). 10. Orang
yang berdoa dengan wasilah doa Nabi Yunus ‘alaihis-salam. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Doa Dzun-Nun
(Nabi Yunus as.) yang dibaca saat berada di dalam perut ikan ialah: “La
ilaha illa Anta, subhanaka, inni kuntu minadz-dzalimin” [Tiada tuhan
yang berhak diibadahi secara benar kecuali hanya Engkau. Maha sucilah
Engkau. Sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang yang
dzalim/aniaya] – QS. Al-Anbiyaa’: 87-88). Sesungguhnya tidak seorang
muslimpun berdoa dengan wasilah doa tersebut dalam hal apapun, kecuali
Allah akan mengabulkannya” (HR. At-Tirmdzi dan lainnya dari sahabat
Sa’ad bin Abi Waqqash ra, dan dishahihkan oleh Al-Albani). 11. Doa
orang yang berdzikir saat terbangun di tengah malam. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa
terbangun di tengah malam lalu membaca dzikir ini: La ilaha illallahu
wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa Huwa ‘ala kulli
syai-in qadir. Alhamdu lillah, wa subhanallah, wa la ilaha illallah,
wallahu akbar, wa la haula wa la quwwata illa billah (Tiada tuhan yang
berhak diibadahi dengan benar selain Allah satu-satu-Nya, tiada sekutu
bagi-Nya. Milik-Nya seluruh kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala
puji. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah. Tiada
tuhan yang benar kecuali Allah. Allah Maha Besar. Tiada daya dan
kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah). Kemudian ia membaca
istighfar: Allahummaghfirli (ya Allah ampunkanlah daku), atau berdoa
dengan doa apapun. (Barangsiapa yang membaca dzikir tersebut lalu
berdoa), maka doanya akan dikabulkan. Sedangkan yang lebih semangat
lagi, lalu berwudhu (dan shalat), maka shalatnya diterima” (QS.
Al-Bukhari). 12. Doa jamaah haji. 13. Doa jamaah umrah. 14.
Doa mujahid yang berperang di jalan Allah. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Mujahid yang berperang di
jalan Allah, jamaah haji dan jamaah umrah, adalah tamu Allah. Dia
(Allah) mengundang mereka (untuk berjihad, berhaji dan berumrah), lalu
merekapun menyambut undangan. Maka jika mereka berdoa memohon
kepada-Nya, Dia-pun akan memenuhi doa permohonan mereka” (HR. Ibnu
Majah dan dihasankan oleh Al-Albani). 15. Doa ahli dzikir (orang
yang banyak berdzikir kepada Allah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda (yang artinya): “Tiga orang yang (termasuk) doanya
tidak tertolak adalah: orang yang banyak berdzikir kepada Allah, doa
orang yang terdzalimi, dan pemimpin yang adil” (HR. Al-Baihaqi dan
Ath-Thabrani, dan dihasankan oleh Al-Albani). 16. Doa waliyyullah
(seorang mukmin yang telah sampai derajat dicintai oleh Allah karena
derajat ketaatan dan kesalehannya yang tinggi serta istimewa).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya):
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman (dalam hadits qudsi – yang
artinya): “Barangsiapa yang memusuhi seorang wali-Ku, maka Aku-pun
memusuhinya. Dan tiada cara taqarrub (pendekatan diri) kepada-Ku yang
lebih Aku sukai selain dengan melakukan apa-apa yang Aku wajibkan. Dan
(setelah yang wajib dan fardhu itu) hamba-Ku akan terus ber-taqarrub
kepada-Ku melalui amal-amal nafilah (sunnah), sampai Aku mencintainya.
Dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengaran untuk ia
mendengar, penglihatan untuk ia melihat, tangan untuk ia beraktifitas,
dan kaki untuk ia berjalan. Apabila ia meminta kepada-Ku, pasti Aku
penuhi permintaannya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti
Aku lindungi…” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah ra.). 17. Selain
itu sebenarnya setiap muslim atau muslimah siapapun dia tetap
berpotensi doanya juga mustajab, selama syarat-syarat pengkabulannya
terpenuhi, serta unsur-unsur penghalangnya terhindari. Apalagi jika
ditepatkan dengan faktor-faktor pengijabahan doa, seperti waktu-waktu
mustajab, tempat-tempat mustajab, situasi-situasi dan kondisi-kondisi
mustajab, dan lain-lain. Perhatikan misalnya beberapa contoh firman
Allah Ta’ala dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang
(siapapun dia) yang berdoa apabila ia (benar-benar) berdoa kepada-Ku.
Maka hendaklah mereka itu memenuhi (perintah-Ku) dan hendaklah mereka
beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam petunjuk” (QS.
Al-Baqarah: 186). “Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku,
niscaya akan Aku kabulkan (doa) bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
sombong diri dari beribadah (berdoa) kepada-Ku, akan masuk neraka
Jahannam dalam keadaan hina dina" (QS. Al-Mukmin/Ghaafir: 60).
"Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan
ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai."
(HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah ra.). "Doa seorang hamba
senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa
ataupun untuk memutuskan tali silaturahim dan tidak tergesa-gesa."
Seorang sahabat bertanya; 'Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan
tergesa-gesa? ' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Yang
dimaksud dengan tergesa-gesa adalah apabila orang yang berdoa itu
mengatakan; 'Aku telah berdoa dan terus berdoa tetapi tidak kunjung
dikabulkan juga'. Setelah itu, iapun merasa putus asa (mutung) dan
tidak mau berdoa lagi.' (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra.).
"Tidak ada seorang muslimpun yang berdoa dengan suatu doa yang tidak
mengandung dosa atau pemutusan tali silaturrahim, kecuali Allah akan
memberinya tiga kemungkinan; disegerakan pengabulan doanya (di dunia
ini), atau disimpan pahalanya baginya (untuk diberikan) di akhirat
kelak, atau ia dijauhkan dari keburukan yang setara nilainya (dengan
yang dipinta)". Para sahabat berkata: "Jika demikian kita perbanyak
(berdoa yang banyak) saja", beliau bersabda: "Allah memiliki yang lebih
banyak (sebagai balasan dan pengkabulan" (HR. Ahmad dan Al-Hakim).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar