Ket: Hijau=Waktu Indonesia Timur (WIT), Kuning=Waktu Indonesia Tengah (WITA), Merah=Waktu Indonesia Barat (WIB). wikipedia.org ...
Selasa, 14 Februari 2012
KEAJAIBAN DOA: CARA MUDAH MENGHADAPI PERAMPOK!
Oleh : Ust. A. Mudzoffar Jufri
Salah satu kondisi orang yang mustajab doanya adalah kondisi
“mudhtharr”, yakni orang yang berada dalam kondisi terdesak, terhimpit,
“kepepet”, dan semacamnya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Atau
siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia
berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan
kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada
tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS. An-Naml:
62). Oleh karena itu tidak sedikit kisah tentang berbagai bentuk
keajaiban pengkabulan doa dan munajat bagi orang-orang yang sedang
mengalami himpitan musibah, ujian atau persoalan dalam hidupnya. Jika
hal semacam itu terjadi pada para ulama, waliyullah dan orang-orang
saleh, mungkin sebagian kalangan akan menganggapnya sebagai sebuah
kelumrahan. Namun tidak jarang kita dengar kisah-kisal serupa bisa
terjadi pula pada orang-orang yang dianggap biasa-biasa saja, atau
termasuk orang kebanyakan!
Dan salah satu rahasianya, adalah karena
dalam kondisi terhimpit, terdesak dan terpaksa, biasanya sangat
dimungkinkan seseorang – yang biasa-biasa saja sekalipun – akan mampu
berdoa dan memohon dengan penuh keikhlasan, totalitas pengharapan,
kekuatan tawakkal dan keyakinan besar akan dikabulkan! Nah,
kondisi-kondisi hati seperti itulah yang sebenarnya merupakan faktor
penentu utama bagi pengkabulan doa yang penuh keajaiban tersebut.
Dimana dalam keadaan-kedaan biasa bukan terdesak, umumnya tidak mudah
bagi seseorang untuk bisa menghadirkan totalitas seperti itu saat
berdoa. Kecuali bagi para ulama dan orang-orang saleh dengan tingkat
keimanan istimewa yang tinggi, bisa saja totalitas doa seperti itu
mereka lakukan sewaktu-waktu, tanpa menunggu adanya kondisi terdesak
atau terhimpit!
Jadi sekali lagi, kunci utamanya adalah pada
totalitas tawakkal, pengharapan dan keyakinan akan pengkabulan, dan
bukan pada kondisi keterpaksaan dan keterdesakannya! Sehingga jangan
ada misalnya, yang sampai salah paham, lalu mengharap-harap datangnya
situasi himpitan dan keterdesakan, demi mendapatkan keajaiban
pengkabulan doa! Apalagi sikap mengharap-harap keburukan dan
kenegatifan itu sendiri, memang termasuk yang dilarang di dalam Islam!
Selanjutnya, mari menyimak bersama seraya mengambil ibrah dari kisah klasik berikut ini.
Diriwayatkan dari Sahabat Anas ra, beliau berkisah: Ada seorang sahabat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dari kalangan Anshar,
ber-kun-yah Abu Mu’allaq. Dia ini seorang saudagar yang biasa berniaga
kemana-mana, baik dengan membawa dagangannya sendiri ataupun milik
orang lain. Disamping itu, iapun dikenal sebagai seorang ahli ibadah
dan wara’. Sekali waktu saat bepergian, dalam perjalanannya ia dicegat
oleh seorang pencuri atau perampok atau perompak bertopeng dan
bersenjata. Si perampok berkata kepadanya: Letakkan semua bawaanmu, dan
aku akan membunuhmu! Ia membalas: Apa kamu memang harus membunuhku?
Ambil sajalah hartaku semua! Si perampok berkata lagi: Hartamu sudah
jelas menjadi milikku. Tapi, begitupun, aku tetap mau membunuhmu. Ia
lalu menjawab: Jika memang tetap begitu kemauannmu, biarkan aku shalat
dulu empat rakaat. Sang penjahatpun mengizinkan seraya berujar: Baik,
shalatlah sepuasmu.
Maka iapun berwudhu lalu shalat empat rakaat. Dan
diantara doa yang dibacanya dalam sujud terakhirnya adalah: Ya Waduud,
ya Dzal ‘Arsyil Majiid. Ya Fa’aalu lima yuriid. As-aluka
bi-‘izzikal-ladzi la yuraam, wa mulkikal-ladzi la yudhaam, wa
binuurikal-ladzi mala-a arkaana ‘Arsyik, an takfiyani syarra
hadzal-lish. Yaa Mughits aghitsni, ya Mughits aghitsni [Wahai Dzat Maha
Penyayang. Wahai Tuhan Pemilik ‘Arsy Yang Agung. Wahai Dzat Yang Maha
Mampu Melaksanakan segala yang dikehendaki-Nya. Aku memohon kepada-Mu,
seraya bertawassul dengan kemuliaan-Mu yang tak terjangkau, bertawassul
dengan kekuasaan-Mu yang tak tertandingi, dan bertawassul dengan
cahaya-Mu yang memenuhi pilar-pilar ‘Arsy-Mu, (aku memohon…) agar
Engkau membebaskanku dari kejahatan pencuri/perampok ini. Wahai Dzat
Maha Penyelamat, selamatkanlah daku. Wahai Tuhan Maha Pembebas,
bebaskanlah aku] 3x.
Ia mengulang doa-doa itu tiga kali. Dan
sejurus kemudian, tiba-tiba datang seorang penunggang kuda membawa
tombak yang diletakkan diantara kedua telinga kudanya. Berbareng saat
pencuri/perampok itu melihatnya, maka sang penunggang kudapun langsung
menghampirinya, menikamnya dan membunuhnya seketika. Setelah itu si
penolongpun datang kepadanya seraya berkata: Bangkitlah. Ia bertanya:
Siapakah Engkau sebenarnya? Sungguh Allah telah menyelamatkanku melalui
perantaraanmu hari ini. Ia menjawab: Aku adalah malaikat dari Langit
Keempat. Saat Engkau berdoa dengan doa pertama, akupun mendengar
pintu-pintu langit beradu bunyi. Lalu ketika Engkau mengulang doamu
kedua kalinya, aku mendengar para penghuni langit bergemuruh. Dan
begitu Engkau melantunkan doamu yang ketiga, dikatakan kepadaku: Ini
adalah doa orang yang sedang terhimpit bahaya! Maka akupun memohon
kepada Allah agar Dia menugaskanku untuk membunuhnya (si penjahat).
Sahabat Anas ra. berkata: Barangsiapa berwudhu lalu shalat empat
rakaat, dan berdoa dengan doanya tadi, maka insya-allah akan diijabahi
doanya, baik ia sedang dalam himpitan bahaya ataupun tidak! (Kitab
“Mujaabid-da’wah oleh Al-Imam Ibnu Abid-Dun-ya).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar