Ket: Hijau=Waktu Indonesia Timur (WIT), Kuning=Waktu Indonesia Tengah (WITA), Merah=Waktu Indonesia Barat (WIB). wikipedia.org ...
Senin, 13 Februari 2012
KESUNGGUHAN IKHTIAR BUKTI KEJUJURAN DOA
(SERI KEAJAIBAN DOA)
Oleh : Ust. A. Mudzoffar Jufri
Salah satu syarat terkabulnya doa adalah kejujuran hati seseorang saat
memanjatkannya. Dan kejujuran serta kesungguhan itu haruslah
dibuktikan. Sedangkan salah satu bentuk pembuktiannya yang utama adalah
dengan melakukan upaya riil dan ikhtiar sungguh-sungguh demi
terwujudnya isi permohonan dalam doanya tersebut. Sehingga orang yang
berdoa memohon rezeki misalnya, tidak mungkin jujur dalam doanya, jika
ia tetap saja bermalas-malas dalam usaha dan ikhtiarnya untuk menyambut
rezeki Allah dari jalur-jalurnya sesuai sunnatullah dan syariah-Nya
sekaligus. Sebagaimana sulit dipercaya kejujuran doa seorang siswa atau
mahasiswa yang ingin mendapatkan nilai istimewa dan rangking tinggi
dalam ujian akhir misalnya, jika hari-harinya selama masa belajar dan
termasuk sampai menjelang ujian tetap dipenuhi dengan lebih banyak
bermain dan bahkan berpacaran, tidak dengan keseriusan belajar! Maka, mari bersama mengambil ibrah dan pelajaran dari kisah inspiratif berikut ini! Selamat menyimak!
Tersebutlah sebuah sekolah di suatu daerah, dimana diantara
guru-gurunya terdapat seorang yang dikenal berpaling dari ibadah kepada
Allah Ta’ala, tidak menunaikan shalat, dan tidak pula melaksanakan
perintah-perintah agama yang lain. Lalu ditempatkanlah di sekolah itu
seorang guru baru yang baik dan saleh. Beliau menuturkan kisahnya: Saat
pertama kali pergi demi menjalankan tugas mengajar – sesuai penempatan
– di sekolah tersebut, dan pada waktu istirahat diantara jam-jam
pelajaran, aku perhatikan guru-guru berkumpul di satu ruangan,
sementara ada seorang guru yang menyendiri di ruangan lain. Maka akupun
bertanya kepada mereka, mengapa dia menyendiri dan tidak bergabung
bersama disin?. Mereka menjawab dengan mengatakan: Dia tidak mau
shalat, maka kamipun tidak ingin dan tidak suka duduk dengannya!
Sang guru baru tersebut melanjutkan ceritanya: Aku lalu pergi dari
ruang istirahat para guru, untuk duduk bersama guru yang menyendiri itu
di ruangannya. Tapi dia justru menjauh dariku. Namun pada istirahat
berikutnya, saat aku melakukan hal yang sama, dia sudah mulai
menampakkan sikap sedikit akrab denganku. Kemudian aku berkata
kepadanya: Aku datang ke daerah ini tanpa disertai seorangpun diantara
anggota keluargaku. Maka jika berkenan, aku ingin tinggal bersamamu,
karena aku tahu bahwa, engkaupun tinggal sendirian disini, bagaimana?
Awalnya dia tampak tidak suka dan tidak berkenan dengan kata-kata dan
tawaran serta permintaanku, seraya berucap: Aku ini seorang yang tidak
baik! (Mungkin maksudnya bahwa, kita tidak akan cocok jika bersama, dan
aku tidak akan betah tinggal dengannya! Dan mungkin saja itu ia
simpulkan dari sikap umumya kawan guru terhadapnya selama ini). Namun
aku buru-buru berkata kepadanya: Bagaimana kalau aku tinggal denganmu
beberapa hari saja sampai aku mendapatkan tempat tinggal sendiri, dan
saat itu aku akan pindah dari tempatmu? Akhirnya iapun setuju dengan
opsiku tersebut.
Guru kita yang saleh ini masih melanjutkan
penututurannya: Dan pada hari-hari kebersamaan kami selanjutnya, sesuai
rencana, aku sengaja memberikan pelayanan kepadanya. Dimana aku biasa
mencucikan pakaiannya, membuatkan makanan untuknya, membersihkan rumah,
dan lain-lain. Dan itu semua aku lakukan, sementara disaat yang sama,
sengaja aku tidak pernah mengungkit-ungkit atau menyinggung sedikitpun
tentang keengganannya dalam mengerjakan kewjiban shalat. Sampai suatu
hari aku berkata kepadanya: Baiklah kawan, insya-allah hari ini aku
akan pergi mencari rumah kontrakan/kost-kostan sendiri untukku. Namun
dia justru menahanku. Mungkin karena tidak ingin kehilangan layananku.
Kemudian pada suatu hari, saat kami sedang duduk bersama sambil
menikmati minuman teh selepas santap siang, sebagaimana kebiasaan kami,
tiba-tiba adzan asar berkumandang untuk menyeru hamba-hamba Allah.
Akupun langsung meletakkan semua yang ada di tanganku dan bergegas
bangkit untuk menyambut undangan Allah. Dan saat melihatku berkemas
itu, temanku berkata kepadaku: Apakah engkau tidak bosan harus pergi ke
masjid untuk shalat lima kali setiap hari? Aku jawab cepat: Sama sekali
tidak. Aku justru merasakan kenyamanan dan menemukan ketenangan dengan
shalat yang aku jalankan selama ini. Apakah engkau tidak ingin mencoba
merasakannya pula? Ternyata ia merespon kata-kataku dengan positif
seraya berucap: baiklah, tidak ada salahnya aku coba.
Sejurus
berikutnya kamipun – untuk pertama kalinya – pergi bersama ke masjid.
Namun ia pergi tanpa berwudhu terlebih dahulu. Dan aku sengaja tetap
mendiamkannya. Ketika masuk masjid, kami melakukan shalat dua rakaat
tahiyatul masjid. Saat itu aku berada tepat di belakangnya. Wallahu
a’alam kok aku merasa itulah saat yang paling tepat untuk mendoakannya,
selain doa-doaku untuknya selama ini. Maka akupun mengangkat kedua
tanganku ke langit seraya bermunajat: Ya Rabbi! Sungguh aku telah
berusaha semampuku untuk melakukan segalanya terhadap hamba-Mu yang ada
di depanku ini. Sampai aku, dengan izin dan taufiq-Mu, berhasil
memasukkannya ke dalam rumah-Mu, dan membawanya ke hadapan-Mu! Maka
berikanlah kepadanya hidayah dan petunjuk-Mu, ya Rabb!
Seterusnya seusai kami shalat, akupun bertanya kepadanya: Apa yang
engkau rasakan sekarang di hatimu? Ia lantas menjawabku dengan
mengatakan: Sungguh sebuah perasaan nyaman dan tenang yang belum pernah
kurasakan sebelumnya! Maka setelah itu kukatakana kepadanya: Nah,
setelah ini nanti ada shalat maghrib, dan aku berharap agar engkau mau
mandi dan wudhu terlebih dulu sebelumnya. Dan ternyata iapun sepakat
untuk melakukan itu. Akhirnya, alhamdulillah segala puji dan syukur
bagi Allah, singkat cerita, Allah berkenan memberinya petunjuk dan
hidayah, sehingga iapun berubah rajin sekali dalam menunaikan
ajaran-ajaran Islam. Sehingga kamipun berteman dan bersahabat semakin
akrab dan dekat, selayaknya saudara!
Sementara itu, pada
suatu waktu, akupun berkesempatan mengingatkan kawan-kawan pengajar
yang lain, seraya berujar: Sikap dan perlakuan kalian terhadap saudara
kita itu selama ini kurang bagus. Coba lihat, bagaimana ternyata
akhirnya Allah Ta’ala memberinya hidayah, dengan sarana akhlak dan
kelembutan!
Bahkan ia kemudian menjadi seorang juru dakwah
yang, dengan kehendak Allah, berhasil mengislamkan banyak orang,
disamping sukses menyadarkan banyak hamba Allah yang lain, yang
meskipun beragama Islam namun dengan tingkat keberislaman seperti
kondisinya semula saat pertama kali aku mengenalnya! Falhamdu lillahi
Rabbil-‘alamin!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar