Ket: Hijau=Waktu Indonesia Timur (WIT), Kuning=Waktu Indonesia Tengah (WITA), Merah=Waktu Indonesia Barat (WIB). wikipedia.org ...
Selasa, 14 Februari 2012
DOA IBU PANCEN MANJUR SEKALI
(SERI KEAJAIBAN DOA)
Kisah ini tentang seorang ulama besar yang dengan taufiq Allah bisa
mencapai derajat sangat tinggi dalam berbagai spesialisasi ilmu agama,
berkat doa sang ibunda pada masa kecilnya. Beliau adalah Syaikhul Islam
Al-Imam Abul Fath Sulaim bin Ayyub Ar-Razi Asy-Syafi’i rahimahullah,
salah seorang ulama abad 5 Hijriyah. Seperti banyak ulama lain generasi
salaf, beliau ini dikenal sebagi ulama multi keahlian. Disamping
sebagai pakar fiqih, baik dalam bidang ilmu fiqih secara umum maupun
dalam bidang ilmu fiqih madzhab Syafi’i secara khusus, beliau juga
termasyhur sebagai ahli ilmu Al-Qur’an, qiraat dan tafsir, ahli hadits
yang tsiqah (terpercaya) , ahli bahasa, dan lain-lain.
Beliau bercerita bahwa, saat berusia sekitar 10 tahun-an, ada seorang
syaikh (ulama) yang datang ke kota Ar-Rayy (terletak di wilayah Persia,
dekat Teheran Iran sekarang) dimana beliau tinggal saat itu. Ketika
sang Syaikh sedang mengajar dan mendiktekan ilmu kepada para murid,
tiba-tiba beliau menunjuk ke arahku seraya berucap: Majulah kamu dan
bacalah. Dengan rasa kaget bercampur gugup dan takut, akupun berusaha
keras untuk basa membaca surat Al-Fatihah. Namun ternyata aku tidak
mampu melakukannya sama sekali. Lidahku jadi serasa kelu dan mulutku
seakan terkunci.
Melihat kondisiku yang demikian, Syaikh
tersebut lalu bertanya: Apakah kamu masih punya ibu? Ya, jawabku cepat
dan singkat . Beliau berkata lagi: Kalau begitu pulanglah dan MINTALAH
KEPADA IBUMU AGAR BELIAU MENDOAKANMU SEMOGA ALLAH MENGARUNIAKAN
KEAHLIAN MEMBACA AL-QUR’AN DAN ILMU-ILMU LAIN KEPADAMU! Dan akupun
menjawab singkat: Baiklah! Setelah itu aku langsung pulang menemui
ibuku dan memohon doa kepada beliau. Beliaupun serta merta memenuhi
permintaanku dan langsung berdoa khusus untukku. Dan saat beranjak
besar, aku pergi ke kota Baghdad (yang menjadi salah satu pusat ilmu
saat itu), untuk belajar ilmu bahasa Arab, ilmu fiqih, dan lain-lain.
Kemudian, setelah kurasa relatif cukup dalam menuntut ilmu, akupun
kembali lagi ke kotaku Al-Rayy. Dan ketika suatu hari aku sedang berada
di Masjid Jami’ untuk mengkaji kitab Mukhtashar Al-Muzani, tiba-tiba
Syaikh yang menasehatiku dulu itu datang lagi, dan berucap salam kepada
kami, namun beliau tidak mengenaliku. Beliau mendengar kajian kami,
tapi tidak cukup memahami apa-apa yang kami diskusikan. Beliau lalu
bertanya: Kapan dan bagaimana ilmu seperti ini bisa dipelajari dan
didapat? Saat itu juga ingin sekali rasanya aku mengingatkan beliau
akan wejangannya kepadaku kala kecil dulu dan berkata: Jika Syaikh
masih punya ibu, maka pulanglah dan mintalah kepada beliau agar
mendoakan Syaikh. Namun aku sungkan, sehingga tentu saja itu tidak
kukatakan.
Catatan: Tidak ada keraguan bahwa, doa orang tua
khususnya ibu untuk anaknya, termasuk doa yang mustajab. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Ada tiga doa
yang mustajab, tanpa keraguan didalamnya: Doa orang yang terdzalimi,
doa seorang musafir, dan doa orang tua untuk anaknya” (HR. At-Tirmidzi,
dihasankan oleh Al-Albani). Namun perlu dipahami bahwa, itu tentu
dengan syarat tidak adanya faktor-faktor penghalang lain. Seperti
misalnya dosa-dosa sang anak yang belum terampunkan karena memang belum
dilakukan tobat dengan taubatan nashuha darinya. Disamping bisa juga
karena sikap durhaka anak atau kurang baktinya, atau sikap-sikap apapun
lainnya, yang mungkin telah menyakiti hati ibu bapak sehingga sampai
mengganggu atau mengurangi atau bahkan menghalangi keikhlasan dan sikap
totalitas mereka saat berdoa untuk anaknya.
Nah, bagi yang
masih memiliki ibu, mari mengistimewakan bakti kepada beliau disamping
banyak-banyak meminta maaf kepadanya, lalu setelah itu silakan
masing-masing memohon agar beliau mendoakannya secara khusus sesuai
kebutuhan yang paling dihajatkannya. Dan setelah itu, tunggulah –
dengan sabar, tawakkal dan husnudzan – keajaiban dan barokah
pengkabulannya dari Dzat Yang Maha Menepati janji.
Sedangkan
bagi yang ibundanya telah tiada , disamping senantiasa beristighfar
untuk diri sendiri, maka hendaklah ia banyak melakukan amal-amal yang
dibenarkan atau ditolerir atau bermanfaat untuk dilakukan bagi kebaikan
dan pertambahan pahala beliau di alam barzakh atau di akherat kelak.
Seperti misalnya doa untuk beliau, istighfar bagi beliau, sedekah dan
semacamnya diantara amal-amal ibadah harta yang dikhususkan untuk
beliau, haji dan atau umrah atas nama beliau, dan lain-lain. Dimana
dengan berbagai bentuk “bakti” tersebut, diharapkan doa-doa sang bunda
untuk buah hati semasa hidup yang boleh jadi dulu sempat tertahan oleh
berbagai faktor penghalang dan penahan, kini bisa dikabulkan Allah
untuk kebaikan dan kemaslahatan sang anak dalam hidupnya. Semoga!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar